Rabu, 19 Oktober 2016

LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR



I.                   PENDAHULUAN
Saat ini guru telah banyak menggunakan media grafis, tiga dimensi, dan proyeksi. Media tersebut pada dasarnya bertujuan untuk memvisualkan fakta, gagasan, kejadian, peristiwa, dalam bentuk tiruan dari keadaan yang sebenarnya untuk dibahas di dalam kelas dalam membantu proses pengajaran. Di sisi lain pihak guru dan siswa bisa mempelajari keadaan yang sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang actual dan efektif serta efisien untuk dipelajari dan diamati dalam hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna dari pada pengajaran di kelas, karena para siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan hal di atas, maka di dalam makalah ini akan membahas banyak hal tentang lingkungan sebagai sumber belajar. Seperti pengertian lingkungan itu sendiri, tujuan lingkungan sebagai sumber belajar, jenis – jenis lingkungan belajar, teknik menggunakan lingkungan, langkah dan prosedur penggunaan. Semoga dengan makalah ini , para pembaca dapat mengambil hikmah dan manfaatnya, serta dapat menambah pengetahuan tentang linkungan sebagai sumber belajar.

II.                RUMUSAN MASALAH

A. Apa pengertian lingkungan?
B. Apa saja jenis lingkungan belajar?
C. Bagaimana teknik menggunakan lingkungan?
D. Bagaimana langkah dan Prosedur lingkungan sebagai sumber belajar?
E.  Apa kelemahan dan kelebihan lingkungan sebagai sumber belajar?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian lingkungan
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang terlingkung di suatu daerah. Dalam Kamus Bahasa Inggris istilah lingkungan ini cukup beragam, diantaranya circle, area, surroundings, sphere, domain, range, dan environment, yang artinya kurang lebih berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu yang ada di sekitar atau sekeliling.[1]
Dalam literature lain disebutkan bahwa lingkunga itu merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya  serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan ini terdiri dari unsur – unsur biotik (makhluk hidup),  abiotik ( benda mati), dan budaya manusia.[2]
Jadi, lingkungan sember belajar adalah suatu tempat atau ruangan yang terdiri dari makhluk hidup dan benda mati yang dimanfaatkan manusia untuk belajar sehingga tercipta budaya manusia.

B.     Jenis lingkungan belajar
Kondisi lingkungan itu sangat berpengaruh sekali terhadap proses dan hasil belajar. Sehingga, dilihat dari sudut pandang kondisi lingkungan, lingkungan ini dapat di bagi menjadi dua, yaitu lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam seperti keadaan suhu, kelembapan, kepengapan udara, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial adalah yang berkaitan dengan interaksi manusia. Seperti obrolan di sekitar kelas, teriakan siswa di lapangan. Karena itu, sekolah hendaknya didirikan dalam lrngkungan yang kondusif untuk belajar.[3]
Lingkungan masyarakat yang dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan dan pengajaran secara umum dapat dibedakan menjadi tiga jenis lingkungan belajar, yaitu sebagai berikut[4]:
1.   Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar ini berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat. Seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencahaarian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama, dan system nilai. Lingkungan sosial ini biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu – ilmu sosial dan kemanusiaan.
Dan dalam praktek pengajaran yang memanfaatkan lingkungan sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang dekat dahulu. Seperti keluarga, tetangga, RT, RW, kampung, desa, kecamatan, dan seterusnya. Kemudian, pengajaran tersebut harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak didik. Misalnya dalam materi pelajaran zakat, siswa diberi tugas untuk mengumpulkan zakat di masjid sekitar rumah secara berkelompok, lalu mendata warga yang berhak mendapatkan zakat, setelah itu siswa membagikan zakat tersebut kepada orang – orang yang berhak.
Melalui kegiatan belajar yang seperti itu, siswa lebih aktif dan lebih produktif, karena mereka mengarahkan usahanya untuk memperoleh informasi dan pengalaman yang sebanyak banyaknya dari sumber – sumber yang nyata dan faktual.
2.   Lingkungan Alam
Lingkungan alam ini berkaitan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah, seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora, fauna, dan sumber daya alam. Lingkungan alam tepat digunakan untuk bidang studi ilmu pengetahuan alam.
Aspek – aspek lingkungan alam ini dapat dipelajari secara langsung oleh para siswa dengan mudah, melalui pengamatan dan pencatatan secara pasti. Karena mengingat sifat – sifat dari gejala alam relative tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial. Misalnya dalam mengamati perubahan – perubahan yang terjadi di dalam proses pertumbuhan makhluk. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan – kerusakan lingkungan alam termasuk factor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran air, tanah, udara, dan sebagainya.
Dengan mempelajari lingkungan alam, diharapkan para siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi kehidupan manusia.
3.   Lingkungan Buatan
Selain lingkungan sosial dan lingkunga alam yang sifatnya alami, ada juga yang disebut lingkungan buatan, yaitu lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibuat oleh manusia untuk tujuan–tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan ini terdiri dari irigasi atau pengairan, bendungan, pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari berbagai aspek, seperti prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya. Lingkungan buatan ini dapat dikaitkan dengan berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah.
Dari ketiga lingkungan belajar di atas, dapat dimanfaatkan oleh sekolah dalam proses belajar – mengajar melalui perencanaan yang saksama oleh para guru bidang study baik secara individu maupun kelompok. Penggunaan lingkungan belajar dapat dilakukan pada pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran seperti pemberian tugas. Dengan demikian, fungsi dari lingkungan adalah untuk memperkaya materi pengajaran, memperjelas prinsip, dan konsep yang dipelajari dalam bidang study dan dapat dijadikan sebagai laboratorium belajar para siswa.


C.     Teknik menggunakan Lingkungan
Dalam memanfaatkan lingkungan belajar itu harus mengetahui teknik–tekniknya terlebih dahulu. Agar para guru yang menggunkannya dapat efektif dan efisien. Dan ada beberapa cara dalam mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yaitu sebagai berikut[5] :
1.   Survey
Yaitu siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari dan mengamati proses sosial, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain – lain. Kegiatan ini dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan nara sumber, mempelajari data atau dokumen yang ada, dan lain – lain. Lalu, hasilnya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pengajaran. Pelajaran yang dapat digunakan untuk survey diutamakan bidang study ilmu sosial dan kemasyarakatan.
2.   Kamping atau berkemah
Kegiatan berkemah ini membutuhkan waktu yang cukup lama, karena siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain–lain. Berkemah cocok untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam, ekologi, biologi, kimia, matematika dan fisika.
3.   Field trip atau karyawisata
Karyawista adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum karyawisata dilaksanakan, terlebih dahulu direncanakan objek yang akan dipelajari, cara mempelajarinya, dan kapan sebaiknya dipelajari. Objek karyawisata harus sesuai dengan bahan pengajaran, misalnya museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi dan sebagainya. Karyawisata selain untuk kegiatan belajar juga untuk rekreasi yang mengandung nilai edukatif.
4.   Praktik Lapangan
Praktik lapangan ini dilaksanakan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya mahasiswa tarbiyah dan keguruan diterjunkan ke sekolah SMP untuk melatih kemampuan sebagai guru di sekolah. Siswa SMK dikirim ke perusahaan untuk mempelajari dan memepraktikkan pembukuan, akuntansi, dan lain- lain. Dengan demikian, praktik lapangan berkaitan dengan keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah – sekolah kejuruan.
5.   Mengundang Nara sumber
Teknik kelima ini berbeda dengan teknik – teknik sebelumnya. Jika pada teknik sebelumnya kelas dibawa ke masyarakat, sedangkan pada nara sumber mengundang tokoh masyarakat ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya di hadapan para siswa. Nara sumber yang diundang, hendakanya relevan dengan kebutuhan belajar siswa, sehingga apa yang diberikan oleh nara sumber dapat memperkaya materi yang diberikan guru di sekolah. Dan kriteria nara sumber dilihat dari keahliannya dalam suatu bidang tertentu yang diperlukan bukan jabatan atau kedudukannya.
6.   Proyek Pelayanan dan Pengabdian pada Masyarakat
Cara ini dapat dilakukan, apabila sekolah ( guru dan siswa secara bersama – sama melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masayarakat dan kegiatan lain yang diperlukan). Cara ini memiliki manfaat yang baik bagi para siswa maupun bagi masayarakat setempat. Bagi siswa bermanfaat untuk penerapan kecakapan dan keterampilan belajarnya dalam bidang tertentu. Sedangkan bagi masyarakat bermanfaat untuk memperbaiki keadaan yang seharusnya menjadi garapan masyarakat itu sendiri.

D.    Langkah dan prosedur lingkungan sebagai sumber belajar
Memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pengajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang dari para guru. Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa tidak bisa terkendali, sehingga tujuan pengajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sumber belajar, sebagai berikut[6] :
1.   Langkah Persiapan
Langkah – langkah yang harus ditempuh pada persiapan diantaranya :
a.  Menentukan tujuan belajar yang berhubungan dengan pembahasan bidang study tertentu.
b.  Menentukan obyek yang harus dipelajari dan dikunjungi.
c.   Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan.
d.  Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika diperlukan.
e.  Persiapan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar.
Persiapan tersebut dibuat guru dan siswa pada waktu belajar bidang study yang bersangkutan, atau dalam program akhir semester.
2.   Langkah Pelaksanaan
Pada langkah ini para guru dan siswa melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan. Biasanya kegiatan ini diawalai dengan penjelasan petugas mengenai objek yang akan dipelajari. Dalam penjelasan tersebut, siswa dapat bertanya untuk menghemat waktu, dan mencatat hal – hal yang penting. Setelah itu, siswa dibimbing oleh petugas untuk melihat dan mengamati objek yang akan dipelajari. Dalam proses ini, petugas menjelaskan proses kerja, mekanismenya, dan hal – hal yang lain. Lalu, siswa dapat berkumpul dengan kelompoknya dan mendiskusikan hasil catatannya untuk melengkapi dan memahami materi yang dipelajarinya.
Di akhir kunjungan, guru dan para siswa mengucapkan terima kasih kepada petugas atau pimpinan obyek tersebut. Bagi obyek kunjungan yang sifatnya tidak memerlukan petugas, para siswa dapat langsung bisa melihat dan mengamati objek, serta langsung bisa mewawancarai nara sumber.
3.   Tindak Lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan belajar “pelaksanaan” di atas adalah kegiatan belajar di kelas untuk membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan belajar. Setiap kelompok diminta untuk melaporkan hasil – hasil dari pengamatan untuk dibahas bersama. Selain itu, guru juga dapat meminta para siswa untuk menyampaikan kesan – kesannya dari kegiatan belajar tersebut.
Di lain pihak, guru juga memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil yang dicapainya. Tugas lanjutan dari kegiatan belajar tersebut dapat diberikan sebagai pekerjaan rumah, misalnya menyusun laporan yang lebih lengkap dan ilmiah.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar itu banyak manfaatnya, baik dari segi motivasi belajar, kegiatan belajar, kekayaan informasi, hubungan sosial siswa dan sebagainya.dan proses pengajaran yang mengoptimalakan lingkungan sebagai sumber belajar dikenal dengan pendekatan ekologis.
Dalam upaya pembaharuan kurikulum melalui kurikulum muatan lokal pendekatan lingkungan mutlak diperlukan, sehingga lingkungan di sekitarnya benar – benar menjadi tujuan dan sumber belajar para siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.

E.     Kelemahan dan klebihan lingkungan sebagai sumber belajar [7]
1.   Kelemahan lingkungan sebagai sumber belajar ini sering terjadi dalam teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Misalnya :
a.   Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada waktu siswa dibawa ke tempat tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan, sehingga ada kesan main–main.
b.   Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu untuk belajar di kelas.
c.  Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi  di dalam kelas.
2.   Kelebihan dari lingkungan sebagai sumber belajar ini cukup banyak, antara lain :
a.  Kegiatan belajar menarik dan tidak membosankan bagi siswa.
b.  Hakikat belajar akan lebih bermakna, karena siswa dihadapakan  langsung dengan keadaan yang sebenarnya.
c. Bahan – bahan yang dipelajari lebih banyak dan faktual, sehingga kebenaran lebih akurat.
d. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensip dan lebih aktif.
e. Sumber belajar menjadi lebih kaya, karena lingkungan yang dipelajari bisa beranekaragam.
f. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek – aspek kehidupan yang ada di lingkungan.

IV.             KESIMPULAN
Lingkungan sember belajar adalah suatu tempat atau ruangan yang terdiri dari makhluk hidup dan benda mati yang dimanfaatkan manusia untuk belajar sehingga tercipta budaya manusia. Lingkungan sebagai sumber belajar para siswa dapat dioptimalkan dalam proses pengajaran dan pembelajaran untuk memperbanyak bahan dan kegiatan belajar siswa di sekolah.
Ada tiga macam lingkungan belajar, yaitu lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan buatan. Dan prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu melalui survey, berkemah, karyawisata pendidikan, praktik lapangan, nara sumber, dan pelayanan pada masyarakat.
Supaya penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dapat berhasil secara maksimal. Maka perlu dipersiapkan secara matang melalui tiga tahapan kegiatan yaitu tahapanpersiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Dalan setiap tahapan tersebut, hendakanya guru dan siswa dilibatkan.Sehingga para siswa memiliki rasa tanggungjawab terhadap semua kegiatan belajar dan pemanfaatan lingkungan belajar.

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan guna memperbaiki makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


[2] Munadi, Yudhi.Media Pembelajaran(.Jakarta:Gaung Persada Press,2008), hlm. 36-37.
[3] Munadi, Yudhi,  Media Pembelajaran, (Jakarta:Gaung Persada Press,2008), hlm.31-32.
[4] Dr.Nana,Sudjana,Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatannya),(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2005),  hlm.212-214.
[5] Dr.Nana,Sudjana,Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatannya),(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2005),hlm.209-211.
[6] Dr.Nana,Sudjana,Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatannya),(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2005),hlm.214-217.
[7]Dr.Nana,Sudjana,Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatannya),(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2005), hlm.208-209.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar